Oleh: Shofiatul Fajriyah | Desember 26, 2011

Sarana dan Prasarana RS (1)

Interior design master planning for healthcare facilities

Bangunan fisik industry pelayanan kesehatan memiliki sifat yang unik dibandingkan dengan bangunan fisik komersial lainnya. Bangunan fisik sector industry pelayanan kesehatan akhir-akhir ini mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Dalam perkembangannya, hampir semua Universitas Negeri dan Swasta yang memiliki fakultas kedokteran telah memiliki fasilitas fisik “Rumah Sakit Akademis” dan beberapa perguruan tinggi sedang dalam proses pengerjaan.

Prinsip dasar design Interior Rumah Sakit atau bangunan fisik pelayanan kesehatan pada umumnya harus mengutamakan pada fungsi dan fungsi tersebut harus mengutamakan keselamatan pasien (“patient safety first”), lebih efisien, dan fleksibel agar terwujud kepuasan pelanggan internal dan external.

Manakala implikasi biaya dan usia ekonomis dari perencanaan menjadi perhatian owner maka efisiensi, long term, dan mudah cara pemeliharaannya adalah keharusan yang harus direncanakan dari awal.

Dokumen master plan design interior harus mencakup spesifikasi material dan rekomendasi bagaimana konstruksi dan arsitektur harus dirancang secara ideal, diantaranya jenis lantai, plafon, dinding, furniture, penggunaan finishing pabrikan, penutup jendela, jenis pintu, dan accessories arsitek lain yang diperlukan sesuai dengan standarisasi fungsi rumah sakit utamanya yang berkaitan langsung dengan “patient safety”. Pendokumentasiannya harus detail dan digambarakan secara jelas dalam bentuk RKS.

Penjelasan Tahapan Perencanaan Design Interior:

Phase 1: Definition of needs.

Tahap ini termasuk peninjauan lapangan yang melibatkan semua komponen panitia proyek yang diarahkan oleh staf ahli design interior dari perencana yang ditunjuk, tahapan ini memberikan gambaran bagaimana perencanaan interior dibuat dengan teliti atas apa yang telah ditetapkan dalam RKS. Perencana wajib menjelaskan gambaran hasil akhir dari  perencanaanya melalui penggambaran tiga dimensi atau penjelasan yang lain sehingga owner memahami apa yang menjdai kemauan perencana dan memebrikan masukan atau permintaan bila diperlukan. Hal ini untuk menghindari terjadinya perubahan dalam proses pengerjaannya.

Phase 2: Visioning session.

Sesi mengkolaborasikan visi dan misi RS dalam bentuk output design interior adalah tahapan yang krusial dan sulit serta diperlukan pengalaman khusus untuk mewujudkannya. Penting untuk dipahami bahwa output perencanaan interior rumah sakit harus menggambarkan kesan yang ingin ditampilkan selaras dengan visi dan misi rumah sakit. Proses ini membantu mengidentifikasi dan pencerminan bagaimana fasilitas fisik interior akan mendukung fungsi pelayanan rumah sakit secara keseluruhan. Tahapan ini menjadi pedoman-pedoman prinsip untuk mencapai sasaran dengan menjaga agar proses pekerjaan nantinya tetap pada jalur yang telah diputuskan dan tetap focus pada perencanaan yang telah diputuskan bersama

Phase 3: Design direction.

Proses ini dapat saja berlangsung singkat atau bahkan memerlukan beberpa kali pertemuan antar panitia proyek, pertemuan yang dilakukan akan membicarakan detail dokumen perencanaan interior yang meliputi tujuan perencanaan yang menghasilkan estetika,  efektifitas budged,  sustainability, patient safety, kualitas udara di dalam banguna RS dan isu maintenance di kemudian hari. Perlunya dijelaskan mengenai plus minusnya pemakaian jenis material finishing tertentu dan seterusnya.

Phase 4: Materials selection.

Dalam proses penentuan pemilihan material interior harus mengacu pada prisnsip standar fungsi rumah sakit, perencana harus menjelsakan dengan focus produk material yang akan dipakai. Perencana harus memiliki acuan dan hasil obsevasi material-material yang akan dipakai, sehingga pada saat pelaksanaan tidak terjadi penundaan karena ketiadaan material di pasar.

Phase 5: Finish palette review.

Pada tahapan ini konsultan design interior menyajikan beberapa opsi konsep design kepada panitia proyek untuk dapat dinilai atau dipilih berdasar pada konsep umum yang berkaitan langsung dengan tujuan branding yang ditentukan dalam tahapan kolaborasi design interior dengan visi dan misi rumah sakit. Konsepnya diatur dan dikembangkan berdasarkan pada feedback dari panitia proyek. Hasil perencanaan interior dapat saja bervariasi berdasr pada jenis area, public area, staff area, patient area, supporting area dan lain-lain. Hasil akhir dari perencanaan interior mungkin saja berupa keputusan pembedaan warna/ color management, pembedaan warna lantai, jenis plafon , warna dinding, jenis lift, penutup jendela, artwork dll yang focus pada konsep branding rumah sakit, sehingga bagi pengunjung yang concern terhadap design interior akan mengenali RS dengan kesan mendalam, dan bagi pengunjung awam akan merasakan kenyamanan atas hasil design tersebut. Ketika persetujuan akhir telah diterima maka satu kesatuan dokumen tersebut menjadi master desing interior yang akan dilaksanakan dalam proyek tersebut, dan pimpro (melalui MK) bertanggungjawab untuk menjamin bahwa pelaksanaannya harus sesuai dengan dokumen yang telah disepakati.

Phase 6: Interior furnishings selection.

Dalam kondisi yang sama pada standard proses penyelesaian suatu perencanaan, diskusi mengenai perabotan (furniture) juga berfakus pada produk atau supplier tertentu yang telah memiliki kualitas produk yang bagus dalam hal material, finishing warnanya dan kenyamanan bila dipergunakan atau dinikmati melalui pandangan. Dalam proses ini perencana dapat memberikan alternative untuk menawarkan kunjungan pabrik/workshop/showroom produk interior tertentu sebagai acuan untuk memutuskan pilihan jenis furniture atau interior furniture yang sesuai dengan brand rumah sakit sehingga akan muncul brand image yang mengesankan.

Phase 7: Warranty and maintenance binders.

Sebagaimana umumnya dalam proyek konstruksi, sangat penting untuk merumuskan bagaiamana pelaksanaan program garansi dan maintenance pada semua fasilitas rumah sakit sesuai dengan informasi dari masing-masing. Lembar spesifikasi produk harus mencantumkan informasi spesifikasi mengenai garansi/jaminan, tingkat kekuatan terhadap api, prosedur maintenance, daya tahan, tingkat kelicinan, dan informasi lain yang diperlukan oleh panitia proyek dan atau berdasarkan peraturan departemen tertentu di wilayah tersebut. Dengan tersedianya informasi yang lengkap mengenai kondisi perkakas dan material interior lainnya akan memudahkan owner untuk menjalankan proses maintenance sekaligus memudahkan dalam memberikan penjelasan kepada institusi tertentu dalam program kunjungan dan pemerikasan berkala mereka.

Keuntungan dibuatnya sebuah interior design master plan:

Interior design master plan yang efektif akan memudahkan manajemen puncak dan manajer rumah sakit memasarkan branding dan images rumah sakit secara keseluruhan dari sisi fasilitas fisiknya. Design interior yang baik akan berfokus pada strategi dan metode pemecahan masalah dalam proses operasionalisasi rumah sakit, sehingga hasil akhrinya harus dipikirkan jangka panjangnya, utamanya dalam hal maintenance.
Disamping manajemen warna dan tema interior yang terintegrasi dalam visi dan misi, juga diperhatikan flow rumah sakit secara keseluruhan, sehingga muncul harmonisasi fungsi rumah sakit.

Ruang Operasi Sesuai Permenkes

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X2004, persyaratan Ruang Operasi adalah sebagai berikut: Indeks angka kuma: 10 CFU/m³, Indek pencahayaan: 300 – 500 lux, Standar suhu: 19 – 24 ºC, kelembaban: 45 – 60 %, tekanan udara: Positif, Indeks kebisingan 45 dBA dan waktu pemaparan 8 jam. Untuk pemantauan kualitas udara ruang harus dilakukan uji kualitas udara (kuman, debu, dan gas).

Sebagian besar Rumah Sakit belum sepenuhnya sesuai dengan keputusan tersebut diatas, khususnya tekanan udara- nya. Cara pengukuran tekanan udara ini sangat mudah, sekalipun tidak punya alat pengukur khusus, dapat dilakukan dengan cara konvensional, letakan pita ringan didepan pintu ruang operasi (pintu dalam keadaan dibuka sedikit; secukupnya), jika pita tersebut tidak bergerak menjauh dari pintu tersebut maka dipastikan tidak ada tekanan udara dari dalam ruang operasi. Dan selama AC yang dipakai di dalam ruang tersebut tidak menggunakan system supplay dan return air (ada udara yang diambil dari luar dan disaring kemudain masuk kedalam system pendingin untuk didistribusikan di dalam ruangan tersebut, serta adanya pembuangan sebagian udara ke luar ruang operasi melelui system pendingin udara) maka selama itu pula klasifikasi tekanan udara positif tidak pernah akan tercapai.

Produk AC yang siap pasang di pasaran adalah AC type split duct (system kerjanya seperti AC Sentral) tetapi daya listrik yang dibutuhkan relative kecil dan dapat di design untuk masing-masing ruangan operasi. Filter yang dipakai adalah jenis hepa filter yang besaran filternya bervariasi dari 0,5 mikron sampai dengan 0,3 mikron. Design kasar atas keperluan kapasitas AC model ini untuk standar ruang operasi dengan luas 6 x 6 meter tinggi plafon 3 meter dengan kelengkapan peralatan medis didalamnya cukup digunakan AC Split duck dengan kapasitas lebih kurang 6 PK. Biayanya relative murah bila dikaitkan dengan fungsi pemenuhan standard dan kualitas layanan.

Material Lantai, Dinding dan Plafon:

Lantai: sebaiknya menggunakan vinyl ketebalan 2.5 mm – 3 mm, warna sesuai selera, sebaiknya warna polos (tidak bercorak). Gunakan spesifikasi terbaik untuk fungsi jangka panjang.

Dinding: sebaiknya menggunkan gypsum dengan ketebalan 15mm atau double layer dengan ketebalan masing-masing 10mm (lebih direkomendasikan menggunakan gypsum water resistant), dengan konstruksi yang kuat, jarak antara main support (vertical) tidak lebih dari 400mm (40cm), dan horizontal framenya tidak lebih dari 600mm (60 cm), bila ruangan operasi lebih dari satu dan bersebelahan, pasang isolasi antara kedua dinding dapat menggunakan Styrofoam, atau lembaran spon lembut. (hindari penggunaaan isolasi yang berasal dari bahan yang mengandung partikel micron. Finishing pengecatan cukup bagus dengan bahan epoxy painting.

Plafon: cukup menggunakan gypsum dengan ketebalan 12 mm jenis water resistant, rangka galvalum dengan aplikasi 300mm x 300 mm, dengan original accessories, memungkinkan untuk maintenance dengan beban minimal 60 kg.

Finishing pengecetan epoxy sudah cukup memadai sesuai standar yang dikehendaki.

Tidak dibenarkan ada opening untuk maintenance di dalam ruang operasi, jenis lampu penerangan dan lampu operasi harus dipilih yang berkualitas bagus agar pemasangannya tidak mengalami kendala pada permasalahan lubang-lubang kecil disekitar konstruksi lampu.

Kelengkapan lain:

Gas Sentral minimal: Oksigen, N2O dan Medical compressed air. Bila tingkat kompleksitas ruangan operasinya tinggi (Micro Surgery) disarankan outlet oksigen lebih dari satu dan harus menggunakan system pendant termasuk kebutuhan outlet listriknya.

Medical Equipment:

Sesuaikan dengan peruntukan ruang operasi, equipment basic yang harus ada, Meja Operasi (Electric/manual), Anastesi mesin, pasien monitor (sebaiknya 7 parameter; dengan menu IBP), Instrumen trolley, medicine trolley, Waste basket, kick basket, foot stool, (laparoscopy recommended), Instrument, dll

Lay Out:

Dilengkapi dengan preparation room, scrub up. recovery room, access ke ICU, access terpisah untuk instrument steril dan non steril, pintu sebaiknya automatic/manual sliding, ada koridor semi steril dan non steril, ada ruang ganti perawat dan dokter yang dipisahkan antara pria dan wanita, ada ruang dokter dan perawat yang memadai, ada ruang linen bersih, ada ruang penyimpanan obat dll

Mechanical and Electrical

Pembangunan sebuah hospital menempati rangking teratas dalam hal komplesitasnya bila dibandingkan dengan public building yang lain (hotel, perkantoran, kampus dll), untuk itu diperlukan pemahaman yang sama pada tim yang terlibat dalam proses pembangunan sebuah hospital, berikut adalah beberapa hal penting yang nampaknya sederhana namun sering “terlewatkan” dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan hospital.

Mechanical:

1.      Pneumatic tube system

Perangkat distribusi material farmasi, laboratorium, dan data antar unit (tidak diperuntukan bagi distribusi bahan dan peralatan makanan), harus dipasang oleh agen resmi yang ada sesuai produk yang dipilih, dan ada jaminan pemakaian original material untuk semua system yang terpasang.

2.      Fire alarm, smoke detector, fire hydarant, dan portable fire extinguisher

Instrument pencegahan dan penaggulangan bahaya kebakaran, pemasangannya disesuaikan dengan lokasi dan jenis apinya, dipasang pada semua bagian didalam dan luar hospital (pilar hydran)

3.  Incenerator

Peralatan pengalahan limbah padat hospital dengan cara pembakaran, posisisnya diusahakan sejauh mungkin dengan main building dan pemukiman

4.      Waste water treatment plant

Pengolahan limbah cair hospital, untuk efisiensi masih dapat digunakan system konvensional, namuan diharuskan tidak ada kebocoran dari air tanah pada bak penampungnya agar pertumbuhan bakteri pengurainya baik

5.      Medical Gas Central:

Instalasi pipa gas harus dikerjakan oleh perusahaan yang memiliki pengalaman khusus sebagai kontraktor gas medis di hospital, pemipaan harus rapih, dan finishingnya di beri tanda pada masing-masing pipanya serta di buatkan jalur shaft khusus menuju ke semua lantai, sebaiknya semua bed diberi fasilitas gas medis outlet, untuk efisiensi tenaga dan alsasn k3

6.      Plumbing works:

Instalasi pipa air bersih, hydrant, air kotor, dan air panas harus dibuatkan shaft tersendiri, terpisah dengan shaft listrik dan jalur pipa condenser ac dan medical gas) dilengkapi kategori perbedaan warna dan diskripsi pada masing-masing pipanya.

7.      AC system:

Tata udara pada ruang selain ICU, OK, Recovery, Delivery, Isolasi dan Laboratorium sebaiknya menggunakan system Fresh and return air, bukan AC split

8.      Water treatment

Kebutuhan air untuk hospital memiliki perlakuan khusus (ICU, Lab, OK, CSSD, Delivery, dan Poli gigi), kualitas air harus rendah fed an sink, sehingga perlu di treatment. Loaksi ini sebaiknya juga dibuat kan rumah tersendiri, pemasangan pompa-pompa air harus rapih dan systematic.

9.      Lift pasien, pengunjung, dan barang

Untuk keperluan transportasi di dalam hospital bertingkat lebih dari dua lantai sebaiknya di pasang lift dan ramp (untuk kasus emergency: bencana alam dan kebakaran), bedakan jenis lift untuk pasien dan pengunjung, posisikan lift untuk pasien dan barang terlindung dari access umum, lift untuk pasien sebaiknya menggunakan pass trough, sehingga alur keluar dan masuk ke ward blocknya memenuhi standard alur, lift barang dapat di fungsikan sebagai pembawa jenazah (gunakan type khusus). Untuk distribusi makanan dapat menggunakan lift pengunjung, namun trolley-nya harus dirancang khusus, rapat dan bagus.

Electrical:

a.      Power resources:

Transformer, generator, amf ats, stabilizer, ups, main panel, distribution panel, dan steam boiler harus dibuatkan rumah tersendiri (power house) dan terpisah dengan main building. Untuk distribusi listrik pada masing-masing lantai dibuatkan panel listrik dan diletakkan pada shaft electrical jangan kombinasikan dengan instalasi lain.

Insatalasi listrik harus dilakukan pengetesan sebelum di operasikan, semua grounding harus memenuhi standard medis, termasuk didalamnya grounding untuk penangkal petir.

b.      Nurse Call:

System komunikasi antaara perawat dengan pasien seperti hospital pada umumunya menggunakan nurse call, didalam toilet harus dilengkapi dengan emergency call menggunakan pull hand switch.

c.       Telephone system:

Demi kenyamanan dan kelancaran komunikasi baik internal maupun eksternal, hospital harus dilengkapi dengan instalasi telepon yang terintegarasi dengan IT dan billing. Mutlak diperlukan PABX dengan advance technology, sehingga untuk minimal 10 tahun kedepan masih dapat sinkron dengan perkembangan teknologi.

d.      Armature lamp

Konsep sinar redup sah-sah saja tapi tidak untuk bagian tertentu yang memerlukan intensitas cahaya lebih tinggi (OK, ICU, Farmasi, Radiology, Laboratorium), gunakan jenis lampu hemat energi dan mudah car penggantiannya serta rapat housingnya.

Dalam hal fungsionlisasi hospital, arsitek tetap diberi keleluasaan untuk berkreasi, tetapi function value-nya tetap menjadi prioritas, Ruang OK, ICU, CSSD dan Radiology memerlukan perlakuan khusus dari semua jenis bahan yang diperlukan, dinding, lantai, plafond dan jenis serta arah membukanya pintu harus sinkron dengan alur hospital secara keseluruhan

Upgrading Radiology

Perkembangan technology radiology equipment saat ini sangat pesat, jauh sekali bila dibandingkan dengan keadaan 6 tahun yang lalu, merek-merek papan atas seolah berlomba-lomba dalam hal keunggulan tekhnologi dan tambahan fasilitas menu yang lengkap dalam memproduksi perlatan radiology. Ambil contoh betapa cepat perkembangan Ct Scan dalam hal slice-nya dan lain-lain.

Seiring dengan kondisi tersebut, banyak rumah sakit yang menyesuaikan dengan keadaan tersebut, baik atas tuntutan pasar, konsumen maupun pertimbangan competitor.

Benturan yang sering terjadi pada banyak rumah sakit adalah adanya ketidaksesuaian fasilitas fisik yang telah ada dengan type peralatan radiology baru. Hal ini sering menjadi penyebab tertundanya rencana penyesuaian diatas.

Biasanya management rumah sakit merasa kuatir bila melakukan renovasi fasilitas fisik pada unit radiology yang sedang beroperasi akan mengganggu proses pelayanan bahkan menyebabkan berhentinya layanan pada unit tersebut.

Berikut ini adalah trik berdasarkan pengalaman melakukan renovasi tanpa gangguan berarti:

  • Lakukan pekerjaan renovasi setelah jam layanan selesai (kerjakan dimalam hari).
  • Lakukan pekerjaan bertahap ruang demi ruang.
  • Untuk pemasangan proteksi radiasi, gunakan gypsum sebagai penutup finishingnya.
  • Pemasangan jalur kabel untuk alat baru buatlah model “floor channel”.
  • Gantilah lantai dengan vinil berketebalan 3mm.
  • Gunakan finishing cat warna cerah.
  • Buat ruang tunggu pasien senyaman mungkin.
  • Buat panel listrik serapih mungkin dan lebihkan kapasitasnya.
  • Sediakan UPS dan Stabiliser secukupnya, atau sambungkan dengan generator set.
  • Pasang penerangan secukupnya.

taken from : http://www.konsultanrumahsakit.com

 

 


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: