Oleh: Shofiatul Fajriyah | Januari 10, 2012

Ketika Berbicara dengan Diam…….

*Copy paste tulisan sendiri, tertanggal 6 desember 2010. ditulis yang berupa message untuk seseorang, sebuah pesan or tulisan di note? ah tak tau lah. Tapi lebih tepatnya comment untuk seseorang yang update status tentang ‘Ilmu tumbuh-tumbuhan’.
_____________________________________________________________

Didepan rumah ada pohon kelor, beberapa kali di tebang, tetap tumbuh…beberapa kali dipotong dan ditebas tetap masih saja tumbuh….ternyata masih ada sisa akar di tanah, yang membuat pohon itu bertahan, dan tak lelah untuk tumbuh lagi…dan lagi…, walau kesannya lingkungan tidak akan membiarkan dya hidup, tapi dya berusaha menyembulkan daun mungilnya…(terharu dan kagum melihatnya)…
Dari pohon kelor dapet pelajaran, sebeberapa kerasnya hidup, sebeberapa kejamnya hidup, yang seolah-olah ingin melenyapkan hidup kita…tapi jika masih ada akar (iman) yang kokoh, maka kita akan terus bertahan dan terus hidup….

Akar tidak seperti daun, batang, bunga dan buah. Akar tersembunyi di bawah tanah, tidak terlihat…tapi perannya sangat penting; menopang hidup pohon, menyerap unsur hara dan air dari tanah…sehingga pohon tetap hidup…
Behitu juga dengan iman, iman tak terlihat….tapi dengan iman kita dapat berdiri tegak dan kuat…..

Pernah menanam pohon mawar. Waktu awal beli di pasar stan, pohon itu hanya berupa batang dan hanya beberapa daun saja. Setelah ditanam tumbuhlah daun2 muda dan daunnya lambat laun bertambah….Suatu ketika muncul kuncup bunga mawar, lalu apa yang terjadi dengan daun? setelah kuamati daun tidak tumbuh lagi, daun tidak lagi bertambah jumlahnya. Dalam teori fisiologi tumbuhan menyebutkan, ketika ada bunga mulai muncul, aliran nutrisi/zat hara terkonsentrasi untuk perekembangan bunga…maka daun mengalah memberikan makanannya untuk bunga. membiarkan bunga untuk berkembang, karena bunga sebagi organ reproduksi, sehingga nanti pohon bisa beregenarasi

Daun seperti sifat kasih sayang….layaknya seorang ibu, mendahulukan anaknya makan, padahal ibulah yang memasak makanan. layaknya seorang ayah, mendahulukan anaknya makan, padahal ayahlah yang berjuang mencari makan….semua karena kasih sayang yang tak bisa dilogika….kasih sayang yang indah…

Saat pejalanan mudik ke madura, jalan antara sragen dan ngawi, melewati hutan jati…pada saat kemarau pohon2 tersebut terlihat kering tak berdaun….
Daun dulunya yang tampak hijau dan segar, pada saat kemarau, daun rela menjatuhkan diri ke tanah…agar suplai air cukup bagi organ2 pohon lainya, sehingga pohon akan terus hidup dan pohon mampu melewati musim yang sulit….
Saat daun jatuh ke tanah pun, daun tidak mau jatuh dengan sia2…daun membiarkan dirinya membusuk…karena bisa menjadi zat hara yang bisa diserap oleh akar, agar pohon mendapat nutrisi dan terus tetap hidup
Sungguh Indahnya sifat kasih sayang…lalu pengorbanan untuk kehidupan orang lain, membuat dya berguna bagi orang lain…..

Karakter indah dari tumbuhan yang tidak dimiliki mahluk lain adalah sifat ‘diam dan tenangnya’

dengan ‘Diam-nya’, tanaman tidak tidak protes akan cuaca buruk, tidak protes akan keringnya tanah, tidak menghardik ulat yang memakan daunya, dya tidak dendam akan manusia yang akan melenyapkannya, tidak teriak walau diinjak-injak, tak menyalahkan angin yang menghembusnya….

dengan ‘Diam-nya’ tanaman terus berdzikir dan menyebut asma Allah dengan cara mereka sendiri, melantunkan pujian kepada Tuhannya……

dengan ‘Diam-nya’ tanaman tidak akan lari dari buruknya cuaca, serangan serangga, tanah yang tandus… tanaman akan menghadapinya semua itu dengan bersahaja…

dengan ‘Diam-nya’ tanaman memberi kesejukan ke lingkungan sekitarnya, mengambil yang buruk (karbondioksida) dan mengembalikannya dengan yang baik (oksigen)

dengan ‘Diam-nya’ tanaman menawarkan keindahan bunga, menawarkan kenikmatan buah, memberi kesejukan bagi siapa saja yang bernaung didekatnya, memberi ketentraman bagi siapa saja yang melihatnya…..

Subhanallah………akupun kalah dengan organisme yang satu itu..

_______________________________________________________________

hehehe……….polos sekali tulisanku………
nostalgila ah……..
ternyata aku sangat menyukai tumbuh2an…..

Ya,
Tahukah kau tumbuhan?
Dulu, ketika aku sendiri aku maka akan ke halaman depan, memandangi engkau yang sedang diam. Ah, bukan diam. Kau sibuk dan ramai dalam diam-mu…, seketika itu aku tidak akan kesepian lagi.

Ketika pikiranku sumpek, aku akan duduk disampingmu. Lagi2 kau pun diam. Kau tak bicara, apalagi menanyakan, “ada apa denganmu? Apa ada masalah?”. Kau tak menanyakan, tapi kau langsung memberi dan berbagi. Kau beri aku O2 segar, yang mampu merefresh sel2 otakku yang yang mulai berkerut2.

Tahukah kau tumbuhan?
Aku dulu pernah menangis, ketika pulang kuliah, melihat halamanku bersih dan rapi, ternyata bapakku telah merapikan halaman dengan mencabutimu? * Hehehe konyol memang, tapi tangis itu asli reflek loh, keluar begitu saja, tak bisa dibendung di depan ibu dan bapak. Hehe moment dimana aku terlihat seperti anak kecil yang kehilangan mainannya (moment langka itu hehe).

Tahukan kau tumbuhan?
Aku lebih suka membiarkan kau tumbuh, sampai kadang aku enggan mencabuti rumput, membiarkan tanaman pacar air tumbuh sedemikian sporadisnya dihalaman. Terlihat indah dengan bunga warna-warnimu, semak bunga dari gradasi putih menuju ungu. Kubiarkan tanaman rimpang, tumbuh menjadi semak2. Kubiarkan tanaman cabe jawa merambat sesukanya di tembok, sampai menutupi sebagian besar tembok. Ah, sebenarnya aku menyukainya, walau banyak anak2 TK yang lewat di depan rumah,  kemudian mereka menyebut rumahku sebagai Rumah Hantu hehehe😀

Tahukah kau tumbuhan?
Kau menjadi salah satu alasan, untuk memantapkanku masuk di Farmasi jurusan Obat Alami. Entah, aku ingin tau kau lebih banyak tentang kau. Karena kau selalu diam dan tidak banyak bertingkah, jadi aku penasaran denganmu. Kenapa kau bisa mengobati orang dengan ‘Diam’mu??. Kenapa kau bisa memberi banyak manfaat dalam ‘Diam-mu’?Kenapa kau bisa kuat dengan Diam?

Kenapa Allah menciptakanmu diam. Tidak seperti Kucing yang mengeong-ngeong ketika kelaparan?, tidak seperti burung yang terbang kesana kemari?Tidak seperti manusia yang banyak bicara?

Kenapa kau diam saja? Padahal engkau banyak berjasa?
Di Rantai kehidupan ini engkaulah Produsen, bisa dibilang kau awal dari semuanya. Karena kaulah, hewan, manusia (Konsumen I, II, III….dst) dan bakteri pengurai bisa hidup.
Knapa kau tetap diam saja, kenapa kau tidak pernah bersuara mengkoar-koarkan jasamu yang begitu besar?.
Ketika semua bisa berbangga-bangga dengan kehebatan dan jasa mereka, dan meneriaakkan “Aku telah memberi banyak manfaat kepada sesama”.
Tapi kenapa kau hanya diam saja? Tak inginkah kau ikut berbangga-bangga juga?.
Ah sebenarnya kau lebih pantas berbangga diri daripada mereka, kau bisa meneriakkan dan menceritakan darimanakah asal pangan, sandang, papan, obat2an yang mereka pakai.  Bisa saja kau ceritakan hasil kerja kerasmu pada proses fotosintesa yang menghasilkan oksigen yang mereka hirup di kesehariannya.
Bahkan orang kaya, orang hebat, pejabat, manusia super pun tak bisa apa2, jika kau mogok hidup.
Bahkan uangpun tidak ada, karena uang kertas yang bertumpuk2, itu darimu, dari serat kayumu.
Tapi kau tetap diam saja.
Jika aku menanyakan apa itu Rendah hati, mungkin aku akan ajukan pertanyaan itu padamu. Tapi seperti biasa, kau akan tetap diam saja, tak menjawab.

Kenapa kau hanya diam saja? Kenapa kau suka memberi dan tak suka meminta? Kau beri manusia buah2an, kayumu, daunmu, getahmu, bahkan bangkaimu. Kau beri semua buah2an ke kami, tapi kau tak minta air atau pupuk sebagai gantinya.
Kau hanya diam saja.
Padahal kau bisa saja bicara, untuk meminta dengan alasan yang cukup Logis, “berilah air dan rawatlah aku, nanti aku akan berkerja lagi untuk memproduksi buah untuk kau petik”.
Tidak, kau hanya diam saja.
Tak diberi airpun, akarmu akan terus menembus tanah dan mencari air sendiri, bahkan menembus batu yang keras sekalipun.
Jika aku menanyakan apa itu memberi tanpa pamrih, mungkin aku akan ajukan pertanyaan itu padamu. Tapi seperti biasa, kau akan tetap diam saja, tak menjawab.

Kenapa kau diam saja? Ketika sebagian manusia di penjuru tempat, dengan bermacam2 bahasa bisa meneriakkan ‘Aku jenuuuh dengan semua ini…”.
Tapi kau hanya diam saja.
Padahal kau lebih layak meneriakkan itu dari pada mereka. Bagaimana tidak?
Kau tetap berdiri disitu terus, ga berpindah tempat, berpindah jika ada yang memindahkan, apa ga bosan?
Wahai pohon mangga, tak jenuhkan kau selama hidup berbuah mangga terus…tak inginkah kau bervariasi sedikit berbuah strawberry yang imut dan cantik?.
Wahai rumput kecil tak jenuhkah kau dinjak2 dengan daun2mu yang halus? tak ingingkah daun2mu tumbuh seperti kaktus yang lebih kuat?.
Tapi tidak, kau tetap diam saja.
Kau akan terus menjalankan tugasmu dengan konsistent. Kau setia dalam menjalankan tugas.
Pohon mangga akan berbuah mangga. Rumput akan terus bergoyang2 dengan daun2 kecilnya. ah,  kenapa kalian tidak saling merasa iri?.
Jika mungkin suatu saat ketika aku menanyakan apa itu istiqomah, mungkin aku akan menayakan itu padamu. Dan seperti biasa kau akan tetap Diam.

Dan kenapa kau diam saja? Ketika ‘seolah2’ lingkungan dan kehidupan disekitarmu tidak adil padamu?.

Kenapa kau diam saja? Tak pernah pernah berteriak2 ketika mahluk lain mendzalimimu?
Wahai rumput…kau diam saja, setiap ada manusia dan hewan yang mondar-mandir menginjakmu…
Wahai pohon, kau diam saja ketika batangmu ditebang dan disayat2, kau diam saja ketika daun dan buahmu dipetikin, dimakan ulat, dikerubungi semut, dipatuk2 ma burung….
Kenapa ga bertingkah sedikit saja, kaya kucing yang bisa mencakar,
kau pun bisa memukul ringan mereka dengan ranting kecilmu. Tapi itu tak kau lakukan.
Tetap saja begitu terus, hanya diam.
Kau malah membalas perilaku ‘jahat’ mereka dengan kebaikan, kau terus memberi dan memberi…….
Jika aku menanyakan apa itu Berbuat Baik, mungkin aku akan ajukan pertanyaan itu padamu. Tapi seperti biasa, kau akan tetap diam saja, tak menjawab.

Kenapa kau diam saja? Ketika yang lain boleh mengeluh?
Tak maukah kau mengeluh dengan cuaca yang ekstrim panas? Tak maukah mengeluh dengan tanah tandus? Tak mau kah kau mengeluh dengan angina yang kencang? Tak maukah kau mengeluh dengan suhu yang dingin?.
Kau hanya diam saja.
Atau, tak pernahkah kau bertanya kepada Yang Menciptakanmu, kenapakah kau ditumbuhkan di tempat yang sulit dan tandus?. Bahkan kau bisa merayu-Nya “Tuhan, aku diciptakan tak bisa bergerak, maka bermurah hatilah, tumbuhkan aku ditempat yang nyaman dan berkucupan”. Tak pernahkah kau ajukan pertanyaan dan doa yang bersifat protes?.
Tidak, kau hanya diam dan menerima saja.
Jika aku menanyakan apa itu Qonaah, mungkin aku akan ajukan pertanyaan itu padamu. Tapi seperti biasa, kau akan tetap diam saja, tak menjawab.

Kau tetap berusaha tumbuh walau ditempat yang sulit, di cuaca yang sulit, di lingkungan yang sulit.
Kaupun tak habis akal, mencari cara untuk hidup, dengan cara yang unik: meranggas, menyimpan cadanga air di batang, menumbuhkan duri untuk mengurangi penguapan, menyimpan cadangan makanan disalah satu tubuhmu. Dan ketika keadaan semakin sulit dan tak bisa diitolerir lagi, bahkan kau rela mati atau gugur.
Dan pada saat-saat tergenting pun, kau hanya diam saja, sunyi tak ada ratapan dan tangisan.
Jika aku menyakan apa itu kuat, tabah dan tegar? Mungkin aku akan ajukan pertanyaan ini padamu. Tapi seperti biasa kau akan tetap diam saja.

(Ah, aku baru tahu saat kuliah, bahwa ditempat yang sulit kau akan menghasilkan metabolit sekunder yang banyak. Metabolit sekunder kinilah yang kami gunakan untuk obat-obatan manusia. Ah bisa-bisanya di keadaan sulit pun kau bisa memberi manfaat, tanpa harus bicara untuk minta dimaklumi)

5 menit………

10 menit…….

30 menit………..

kau masih saja diam, akupun ikut diam, sambil mengalihkan pandangan ke langit…….

Dan udara yang berhembus semakin segar, angin segar nenyapu wajah,
dan akhirnya kembali aku bertanya padamu (lagi)……..

Hmmmmm……. Jika suatu saat aku mencari dan bertanya akan arti kata ‘IKHLAS’, bolehkah aku menanyakan itu padamu?.

Dan kau masih diam saja……..

Ya, itulah jawabanmu. Mmmmm ya, kau menjawab dengan bukti, sungguh jawaban yang sangat menawan melebihi indahnya kata-kata…….🙂

*Ah, aku hanya pura2 bertanya padamu, karena aku tau, kau akan diam saja. Jika aku benar2 bertanya padamu, nanti malah diberi gelar skizofrenia sama orang-orang yang lewat hehe :p
Oh ya, tak selayaknya aku membandingkanmu dengan manusia. Tentulah berbeda, anak kecil pun tahu itu. Mungkin anak TKpun akan menertawakanku ketika aku bertanya “kenapa tumbuh-tumbuhan diam?”

hehehe

Tapi aku hanya ingin belajar denganmu……..
Duduk diam didekatmu…………..
Tak akan banyak bicara………..
Diam sejenak, Menghilangkan segala ego dan kesombongan.……….
Diam sejenak, melepas suatu beban dan tuntutan yang tak jelas diarahkan kemana……..
Diam sejenak, mengembalikan rasa yang sering hilang…….
Rasa Ikhlas karena-Nya…………..


Responses

  1. Tapi kan manusia dilebihkan atas tumbuhan dgn mulut, copi.
    Manusia bs berbicara, manusia bs menentang hal batil, manusia bs mengingatkan, manusia bs mencegah. Bukan diam saat kebatilan dilakukan. Bukan kan copi…

    Manusia akan ditanya apa yg sdh dilakukan tangannya, mulutnya.. Sdhkah ia melakukan kewajibannya… Bukan diam.. Bukan diam.. Dan bukan tak bergerak😦

    • Hahaha. iya tentu saja. Anak kecil pun tahu perbedaan manusia dan tumbuhan.

      sedang ingin melihat yang lain (ini casenya beda),
      pro renata. jika suatu saat butuh diam😀

      • dah..ga usah digagas tulisan ini😀
        Sssssst….diem aja, yang punya tulisan lagi angkuh, hehe :p

  2. he…sptnya otakku pandai sekali melupakan. membaca ini spt membaca note baru. baru sadar stlh melihat, trnyt dulu aku meninggalkan jejak disini.
    hua…. Tuhan maha Baik… mekanisme lupa itu memberi ruang untuk kembali melangkah. menjadi tegar.
    *mbuh lagi ngobrolin opo iki


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: